Kultwit Gadget

Jumat, 23 Maret 2012

0 comments

Saya mau twit ttg tweps smoga membantu

Kebetulan saya ada BB juga android, keduanya dibeli krn kebutuhan. iPhone sempat pegang punya temen, hehehe

Dari pemakaian memang BB lebih orientasi pd kenyamanan-keamanan komunikasi dalam membangun jaringan, baik sosial, bisnis, politik  

Sedangkan android memang menyasar anak muda yg doyan hiburan dan suka otak-atik gadget, makanya android rela jd open source

Awal pake BB oktober 2011, dgn cepat jaringan dan komunikasi berjalan cepat dan efisien. RIM tahu benar kebutuhan eksekutif

Android punya andalan banyak aplikasi mantap berbayar maupun free, yg bayar-pun bs diakali juga, PC dlm genggaman

Banyak orang bingung mau beli BB atw android, iPhone ntar aja mahal beut soalnya

Yg punya banyak kerjaan, jaringan dan berniat membangunnya pilih BB aja, krn memang didesain untuk itu

Ini menjelaskan knapa pebisnis, politisi, aktivis LSM maupun jejaring sosial slalu pake BB  

Pilih android bagi yg memang perlu untuk hiburan game maupun aplikasi2 neko2 lainnya, buat sosmed jg lumayan asyik
Ini menjelaskan knapa anak SMA dan mahasiswa semester2 awal sbagian besar pemakai android  

Jd ga perlu galau dlm memilih kalo masih galau bs nanya2 saya, gratis kok
Eh kelewatan, bahkan ada parpol yg mewajibkan pengurusnya untuk mempunyai BB, sgitunya ya, tp itulah organisasi-jaringan

Menurut beberapa pakar komunikasi dan marketing, umur kejayaan BB di Indonesia masih 4-5 tahun lg, tergantung kompetitor jg  

Slama ini RIM fokus ke service BB, skarang mulai sadar dan perbaiki device dgn ajak banyak pengembang aplikasi

*Disadur dari twitter @Ibnucloudheart

Social Media dan Pergerakan

Selasa, 28 Februari 2012

1 comments
Menggempur tirani dengan social media. Ya itu fenomena di beberapa belahan dunia saat ini. Tak hanya timur tengah, Eropa dan Amerika yang sedang mengalami depresi ekonomi mendapati para demonstran tak hanya aksi di jalan, namun juga di dunia maya via social media.
Facebook dan Twitter menjadi media yang benar-benar membuat gusar para pemimpin diktator. Bahkan pada akhirnya Pangeran Talal asal Arab Saudi sampai harus membeli saham Twitter. Efeknya langsung dirasakan, Twitter mengumumkan akan memberlakukan sensor ketat pada twit yang berisi ancaman pada stabilitas kawasan setempat.
Ini menjadi ancaman serius bagi para aktivis dalam mempropagandakan visinya melalui Twitter. Pemakaian twitter memang berbeda dibanding dengan Facebook. Perbedaan mendasar terletak pada fungsinya. Facebook sering disebut sebagai akun pertemanan, di amna harus ada approval dari objek. Berbeda dengan twitter yang punya basic menyebarkan informasi, karena itulah gagasan dan ide bisa menyebar luas.
Twitter besar dan dipakai oleh kalangan menengah atas berpendidikan. Mereka lebih nyaman karena privasi yang tak diekspos seperti di FB. Gagasan dan celotehan menjadi senjata ampuh twitter, di mana kelas menengah atas telah menghabiskan waktunya bekerja dan menjalin relasi. Ketidak-PD-an bisa hilang di twitter, karena bebas “misuh” dalam 140 karakter yang khas.
Para aktivis twitter mesti siap dengan mental baja, karena bullying di sana lebih keras dan dahsyat dibandingkan dengan FB. Tentu kita ingat kasus Mario Teguh yang dihajar habis-habisan oleh para aktivis wanita, karena statement tentang wanita perokok. Pada akhirnya Mario teguh keluar dari pertempuran twitter dan hanya mengelola fan page FB-nya yang kini menembus angka 5 juta.
Di FB Mario Teguh benar-benar ditunggu para pemirsanya, karena fungsi utama FB adalah pertemanan bukan permusuhan. Sangat berbeda dengan twitter, dimana adu argumen dan ide bisa melebar sangat luas dan borderless dari aspek apapun.
Di Indonesia saat ini FB telah menggeser Google sebagai web yang paling sering dikunjungi. Diikuti blogspot, wordpress dan kaskus di posisi berikutnya. Pengguna mobile phone adalah pengakses terbesar internet di Indonesia saat ini. Artinya perjuangan wacana dan marketisasi lembaga maupun personal lebih besar ceruknya di dunia maya bagi anak muda.
Sebagai gerakan mahasiswa KAMMI wajib mengambil kesempatan emas yang tersedia. Era digital adalah peluang sekaligus tantangan yang berat. Memposisikan humas semata hanya sebagai tukang foto dan pembuat rilis adalah kesalahan besar. Lihat perusahan-perusahaan besar, mereka begitu konsern denga pencitraan perusahaannya, bahkan rela membayar tinggi pada konsultan komunikasi.
Memasuki era New Wave, memang digitalisasi mustahil kita abaikan. Social media menjadi tools yang paling seksi untuk membuat perubahan yang cepat dan jauh lebih murah, selama tidak terjadi pengekangan sistematis terhadap eksistensi socmed, seperti gejala yang dialami twitter saat ini.

Religius-Kapitalis Dalam Gerakan Islam

Senin, 01 Agustus 2011

1 comments


Melihat dan mengkritisi kebangkitan gerakan islam sejak lahirnya Ikhwanul Muslimin memang progresnya tidak banyak terlihat, kecuali revolusi di Timur Tengah belakangan ini. Yang patut kita lihat dengan jeli adalah sejauh mana keberhasilan gerakan islam. Ikhwanul Muslimin dalam hal ini sangat jeli melihat fakta dan realita di lapangan.
IM melihat AKP di Turki adalah sebagai contoh nyata keberhasilan gerakan islam meraih, mempertahankan dan mengelola kekuasaan dengan damai via demokrasi. Yang hal itu tidak semua gerakan islam mau dan mampu menyadari, apalagi melaksanakan. Demokrasi yang oleh beberapa kalangan gerakan islam diangap sebagai parasit dan tabu untuk masuk kedalamannya. Belum lagi yang menganggapnya haram dan termasuk kafir yang ikut di dalamnya.
Mengambil istilah dari Buya Syafii, “Mereka adalah orang-orang yang buta konteks kekinian dan masa depan”. Pendapat Buya Syafii tersebut bisa saya amini dan benarkan melihat realita kondisi gerakan islam saat ini, termasuk KAMMI.
Saya rasa KAMMI yang lahir dari rahim gerakan islam sudah lebih maju dengan berani “bertarung” dalam arena demokrasi. Namun sebenarnya tidak berhenti di sana saja. Pertanyaanya adalah, apakah hanya berkecimpung saja. Faktanya banyak aktifis dakwah dengan background pendidikan elite, ujung-ujungnya hanya menjadi broker ataupun pekerjaan yang berhubungan langsung dengan lembaga underbow sebuah harokah.
Kondisi ini sangat memprihatinkan. IM telah mengevaluasi ini dan belajar dari AKP. Adalah keberhadilan timbul dari sisi religiusitas dan kapasitas diri yang terepresentasi dari profesionalitas di bidangnya dan kemampuan ekonomi yang terlihat dari penguasaan kapitalnya. Hal tersebut yang terlihat jelas di AKP. Sebuah partai pimpinan Erdogan dan Abdullah Gul yang dibesarkan oleh “Macan-macan Anatolia”, sebuah sebutan bagi kaum borjuis yang lahir dari muslim kelas menengah yang cerdas.
Saat ini keberhasilan AKP membangun Turki tidak lepas dari peranan kader-kadernya yang bergerak di bidang profesional dan topangan dana dari kader AKP sendiri yang kuat secara finansial. Saya ingin katakan bahwa AKP telah berhasil mengimplementasikan sebuah gerakan RELIGIUS-KAPITALIS.
Kita seolah-olah alergi dengan kapitalis, padahal setiap hari kita bersentuhan dan membutuhkannya. Erdogan cs. Telah berhasil mengadopsi sistem kapitalis dalam ruh perjuangan, sehingga minimal bisa menghindari tindakan korptif yang merugikan negara. Itulah yang saat ini masih sangat kurang di Indonesia.
KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang berbasis islam belum mampu mentransform kader maupun alumninya untuk menjadi macan-macan Anatolia-nya Indonesia. Ini yang wajib menjadi evaluasi serius, bagaimana diaspora kader-kader KAMMI sampai saat ini.
Apakah kader hanya menikmati sisi religius saja tanpa bisa menggapai sisi kapitalis yang sebenarnya merupakan kewajiban. Perlu dicatat, tidak ada satu begarapun yang benar-benar lepas dari perdagangan bebas, termasuk Iran. Artinya bila sejak muda atau mahasiswa kita tidak digembleng dan dihadapkan pada sebuah realita-dimana kita dituntut tidak hanya profesional, namun juga punya modal- kader KAMMI tidak akan punya pengaruh signifikan dalam mengelola negara.
Benarlah kata Anis Matta bahwa setiap aktivis dakwah harus mampu menjadi pengusaha, itu menjelaskan dari segi kapital. Yang tak boleh lupa setiap dari aktivis dakwah harus menguasai dan profesional di bidangnya. Sekali lagi AKP turki telah berhasil menggabungkan dan melaksanakannya.
Bukankah masyarakat umumnya menginkan bukti, bukan sekedar janji dan ayat suci. Kita setiap aktivis KAMMI adalah manifesto dakwah itu sendiri. Bila kita gagal dan terpuruk, tak mampu menunjukkan pada masyarakat agungnya dakwah, maka gagal-lah dakwah itu sendiri. Dakwah tidak lagi hanya hal-hal formal, namun kiranya kader KAMMI mampu mewujudkan substansi di tengah-tengah masyarakat, secara otomatis dakwah itu membumi.
Ibnu Dwi Cahyo, SH
Kadept Ekonomi KAMMI Semarang